
Magetan, — Ratusan masyarakat Dusun Wonomulyo bersama pemerintah Desa Genilangit kembali menggelar tradisi Galungan. Berbeda dengan Hari Raya Galungan umat Hindu seperti di Bali, tradisi Galungan di Dusun Wonomulyo merupakan acara Haul untuk memperingati hari lahir dan hari wafatnya Ki Hajar Wonokoso. Beliau diyakini sebagai cikal bakal sekaligus pendiri dari Dusun Wonomulyo.
Tanpa memandang latar belakang agama. Warga beragama Islam, Kristen, Hindu, hingga Buddha berkumpul bersama dan membawa arak-arakan delapan tumpeng, terdiri dari tumpeng kelapa, tumpeng hasil bumi (sayur mayur), tumpeng pisang, tumpeng gula merah, tumpeng nasi jagung, tumpeng botok pelas, tumpeng tempe bakar ikan asin, dan tumpeng gandik (jadah jagung). Serta juga iring-iringan warga (tiap rumah) wajib membawa pisang, gula merah, dan kelapa, menuju Makam Keramat Ki Hajar Wonokoso.

Kegiatan tersebut merupakan bagian penting, bentuk penghormatan kepada para pendahulu juga atas kerukunan dan semangat warga dalam menjaga warisan leluhur ini. Sebagaimana dikatakan Bapak Senin, juru kunci Makam Keramat Ki Hajar Wonokoso.
“Ziarah yang kita lakukan ini bukan hanya bentuk penghormatan kepada para pendahulu kita, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai gotong royong dan kerukunan yang diwariskan kepada kita, “ujarnya.

Lebih lanjut beliau juga menyampaikan perihal Ki Hajar Wonokoso yang menurut sejarah wafat dan lahirnya di hari yang sama, yaitu Selasa Wage, dan juga wuku dalam Jawa yakni Galungan. “Maka pelestarian budaya Adat Galungan ini kita laksanakan tujuh bulan sekali sebagai warisan nilai-nilai leluhur, “tegasnya.
Senada juga disampaikan H.Pardi, S.Pd selaku Kepala Desa Genilangit, bahwa Adat Galungan yang dilaksanakan tujuannya untuk menghormati, dan mendoakan leluhur, membersihkan lingkungan desa secara spiritual dan fisik. Selain itu, upaya menjaga warisan budaya dan identitas desa, menumbuhkan rasa syukur, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Mengenai ziarah makam yang dilakukan di Makam Keramat Ki Hajar Wonokoso diyakini sebagai cikal bakal Dukuh Wonomulyo, pada prosesinya dilaksanakan dengan doa bersama, tahlil, dan tabur bunga di makam leluhur atau sesepuh, dengan penuh kekhusyukan secara bergantian.
Selain sebagai bentuk pelestarian adat, Ketua Karang Taruna beserta masyarakat Dusun Wonomulyo menaruh harapan besar agar tradisi ini mendapat perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat untuk mendongkrak sektor pariwisata daerah.(Aw)
Tidak ada komentar